PEMATANGSIANTAR, (HarianSumut)
Sebanyak 19 atlet tinju yang tergabung dalam Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Kota Pematangsiantar dipastikan ambil bagian dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) Tinju Sumatera Utara yang digelar pada 8–12 April 2026 di Berastagi.
Kejuaraan yang berlangsung di Taman Mejuah-juah itu menjadi ajang bergengsi, mempertemukan ratusan petinju dari 33 kabupaten/kota. Bahkan, beredar informasi sejumlah peserta dari luar negeri turut meramaikan kompetisi ini.
Namun di balik gemerlapnya ajang olahraga tersebut, muncul kabar yang cukup memprihatinkan. Para atlet tinju asal Pematangsiantar disebut harus berangkat tanpa dukungan dari pemerintah kota. Mereka terpaksa mengandalkan kemampuan internal organisasi serta dukungan terbatas demi bisa tampil di ring pertandingan.
Kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Minimnya perhatian terhadap atlet tinju daerah tersebut disebut sudah berulang dalam beberapa kejuaraan sebelumnya.
Ketua Pertina Kota Pematangsiantar, Pangeran Harahap, mengungkapkan kekecewaannya secara terbuka.
“Sudah pernah kita ajukan ke KONI, tapi tidak ada realisasi. Kami seperti pengemis dibuatnya bersama atlet-atlet ini. Mau minta apa lagi,” ujarnya dengan nada kecewa.
Meski demikian, semangat para petinju muda tidak surut. Mereka tetap optimistis dan bertekad membawa pulang prestasi, sekaligus mengharumkan nama Pematangsiantar di tingkat provinsi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Pematangsiantar, Hamzah Fanshuri Damanik, menyampaikan bahwa pembinaan olahraga, termasuk tinju, merupakan kewenangan KONI Pematangsiantar. Ia mengaku akan melakukan pengecekan lebih lanjut terkait persoalan tersebut.
Di tengah keterbatasan, para atlet tetap melangkah ke arena. Pertanyaannya, akankah mereka pulang membawa prestasi—atau justru meninggalkan catatan pahit tentang kurangnya perhatian terhadap pejuang olahraga daerah? (Tim/Red)





